• Home
  • Menterjemahkan Al-Qur'an 8 Jam Bisa
  • Gallery Foto
  • Abatasa
Rinduku Kepada Ilahi
  • Profile

    • st_30
      st_30
      Man Ana Fi Aina Anta Ila Aina Anta
  • Categories

    • Kajian (5)
  • Tag

      Pendidikan, Pendidikan, Spritual,
  • Archives

    • February 2010
  • Links

    • steomeoslim
  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 17372 kali
Feb 09

Menterjemahkan Al-Qur’an 8 Jam Bisa

Kajian 1 Comment »

"Bayangkan dalam waktu 8 Jam, Anda bisa memahami bahasa Al-Qur’an,
bahasa Robb Penguasa Semesta Ini"

Metode Granada

Assalamu�alaikum SAHABAT, Apa kabar ?

Beberapa hari yang lalu saya mendapat info tentang metode cepat menerjemah Al-Qur�an. Hanya dalam 8 jam,
bisa memahami konsep dasar nahwu shorof (tata bahasa Arab) yang selama ini kita anggap susah.

Konsep dasar metode ini adalah penguasaan akar kata dari setiap kata dalam Al-Qur�an. Untuk info lebih lanjut, bisa lihat di KLIK GAMBAR DI ATAS.

TESTIMONI ANA : ALHAMDULILLAH SETELAH ANA COBA MEMPELAJARI METODE GRANADA, TERNYATA  NAHU SHOROFNYA ITU PUNYA RUMUS, SEHINGGA MEMUDAHKAN ANA UNTUK PAHAM, SEMOGA BERMANFAAT..


Metode Granada : Singkat & Padat 

1 Komponen kalimat dalam bahasa Arab hanya ada tiga, yaitu kata benda, kata kerja dan huruf bermakna. Kesemuanya akan dengan mudah teridentifikasi melalui ciri-ciri khususnya.
2 Kami telah mengalihbahasakan istilah-istilah Arab ke dalam bahasa Indonesia, sehingga peserta yang awam tidak terbebani dengan istilah asing.
3 Konsep utama yang diusung metode ini adalah Anda mengenali awalan, sisipan, dan akhiran sehingga Anda mampu memperoleh akar kata dari tiap kalimat dalam text Arab.
4 Awalan, sisipan, dan akhiran dari tiap kalimat dalam Al-Qur’an dikemas hanya dalam satu halaman Tabel Rumus Granada.
5 Beberapa materi tata bahasa Arab yang rumit seperti pola aktif & pasif (fi’il majhul, fail & maf’ul) dan huruf penyakit (harf �illah), diringkas dengan mudah & unik.

Testimonial

Subhanallah metode ini luar biasa memudahkan untuk belajar tata bahasa Arab. Saya dulu paling alergi belajar bahasa Arab, namun metode Granada memudahkan saya untuk bias menerjemah Al-Qur’an. Jazakumullah khairan katsiran.

Ir. Yuli Suhartini (Surakarta)

Subhanallah, menarik sekali. Ini merupakan suatu hal yang baru bagi yang awam sekali dengan bahasa Arab

Muslimin (Guru Al-Firdaus Surakarta)

Beratnya ilmu nahwu sharaf bisa diserap dalam waktu singkat tanpa harus susah-susah menghafal istilah-istilah yang ada, sehingga sangat membantu siapapun untuk bisa memahami Al-Qur’an dengan mudah, insya Allah.

Akhmad Syaiful Anam (39 tahun, Pegawai BUMN)

Dengan pelatihan ini menambah wawasan dalam hal bagaimana seorang muslim dapat menerjemahkan Al-Qur’an yang berbahasa Arab sehingga dengan mengetahui makna tersebut tinggal mengamalkan dalam kehidupan.

Widodo (38 tahun, Karyawan RS)

Al-hamdulillah setelah mempelajari metode Granada, saya mulai terbuka dan tertantang untuk lebih memperdalam/mempelajari Al-Qur’an walaupun saat ini saya baru bisa memenggal kata (mencari akar kata) saja karena keterbatasan vocab, tapi insya Allah saya bisa mencarinya di kamus.

Ira Savitri (36 tahun, Ibu Rumah Tangga)

Subhanallah, mudah-mudahan metode ini dapat disebarkan seluas-luasnya, agar banyak orang yang lebih memahami kitab suci Al-Qur’an dengan penuh kecintaan.

 

(read more ...)


Feb 09

Power Of Knowledge Assembly

Kajian 2 Comment »

A.Majelis Ilmu
a.Pengertian Majelis Ilmu
Dari segi etimologi majelis ilmu berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata yaitu majelis dan ilmu. Majelis bermakna “tempat duduk”, sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia majelis adalah pertemuan, kumpulan, tempat sidang. Sedangkan ilmu bermakna adalah pengetahuan tetang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Dengan demikian majelis ilmu (Convention for knowledge) adalah suatu pertemuan atau kumpulan yang terdapat pengkajian atau pengajaran tentang pengetahuan tertentu yang disusun secara bersistem. “Pendidikan secara kultural pada umumnya berada dalam lingkup peran, fungsi dan tujuan yang tidak berbeda. Semuanya hidup dalam upaya yang bermaksud mengangkat dan menegakkan martabat manusia melalui transmisi yang dimilikinya, terutama dalam bentuk transfer of knowledge dan transfer of value”.
Seorang Muslim wajib mempelajari ilmu bersungguh-sungguh agar dapat berjalan di muka bumi ini mengikut hidayah serta tuntutan Allah SWT tidak tersesat jalan yang akan membinasakannya. Bagi memahami ajaran Islam haruslah melalui pembacaan kitab-kitab rujukan Islam yang muktabar sambil meminta nasihat serta petunjuk dari para ulama muktabar tentang kitab-kitab yang perlu dibaca dan yang sesuai diteliti ilmunya. Di samping itu dapat dimanfaatkan majelis-majelis ilmu dari ulama-ulama terkenal. Sebenarnya inilah majelis ilmu yang disebut Nabi s.a.w sebagai ‘taman-taman Syurga’ : “Jika kalian melalui taman-taman syurga, maka berhentilah dan duduklah di situ”. Para Sahabat r.a. bertanya : “Apakah taman-taman Syurga itu wahai Rasulullah?” Jawab baginda : “Majelis-majelis ilmu dan zikir”.
Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa suatu majelis yang di dalam terdapat kajian tentang ilmu pengetahuan maka itu akan memberikan manfaat yang luar biasa, baik untuk dirinya maupun bagi masyarakat.
Majelis ilmu juga bisa berupa pengajaran pengetahuan yang dilakukan di lembaga formal seperti sekolah, kampus dan lain-lain. Di mana dalam kegiatan tersebut adanya seorang pembimbing (pendidik / guru) dan ada pula peserta didiknya. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:
-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Imam Ibnu Katsir dalam Tasfsirnya Al-Qur�an al Azhim, Juz IV, hal 324, mengatakan bahwa Allah SWT dalam ayat ini mendidik kaum muslimin agar bersikap baik satu sama lain di dalam majlis. Janganlah satu sama lain mempersempit tempat duduk, sehingga seolah-olah yang satu menghalangi keberadaan dan kehadiran yang lain dalam majlis.

b.Majelis
1.Berilah izin salam atau mintalah izin kepada orang-orang yang di dalam majlis ketika masuk dan keluar dari majlis tersebut.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk, maka hendaklah ia duduk. Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari majlis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah salam yang pertama lebih utama daripada yang kedua.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al-Albani).
2.Duduklah di tempat yang masih tersisa. Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Apabila kami datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka masing-masing dari kami duduk di tempat yang masih tersedia di majlis.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).
3.Jangan menyuruh orang lain untuk pindah dari tempat duduknya kemudian anda mendudukinya, akan tetapi berlapang-lapanglah di dalam majlis. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang tidak boleh memerintah-kan orang lain pindah dari tempat duduknya lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah.” (Muttafaq ’alaih).
4.Jangan duduk di tengah-tengah (lingkaran majlis) halaqah.
5.Jangan duduk di antara dua orang yang sedang duduk kecuali seizin mereka.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seseorang memisah di antara dua orang kecuali seizin keduanya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
6.Jangan menempati tempat duduk orang lain yang keluar sementara waktu untuk suatu keperluan. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang di antara kamu bangkit (keluar) dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya.” (HR. Muslim).
7.Jangan berbisik berduaan dengan tidak melibatkan orang ke tiga.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian sedang bertiga, maka yang dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian berbaur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih.” (Muttafaq ’alaih).
8.Jangan banyak tertawa. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memperba-nyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
9.Jagalah pembicaraan yang terjadi di dalam forum (majlis). Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang membicarakan suatu pembicaraan, kemudian ia, maka itu adalah amanat.” (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani) Amanah bagi yang ditoleh.
10.Jangan melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan perasaan orang lain, seperti menguap, membuang ingus atau bersendawa di dalam majlis.
11.Jangan memata-matai.Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu mencari-cari atau memata-matai orang.” (Muttafaq ’alaih).
12.Tutuplah majlis dengan do`a kaffarah majlis. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majlis dan di majlis itu terjadi banyak gaduh, kemudian sebelum bubar dari majlis itu ia berdo’a,
13.Isilah majlis dengan ingat kepada Allah agar tidak bernilai kotor di sisi Allah dan kerugian (HR. Abu Daud)
14.Jagalah kebersihan dan bau harum atau kesegaran ruangan.
Bicaralah secara halus dan sopan.
c.Keutamaan Majelis Ilmu
Dalam sebuah hadist disebutkan keutamaan majelis yang artinya” Seorang Anshar bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulullah, jika ada orang yang meninggal dunia bertepatan dengan acara majelis ulama, manakah yang lebih berhak mendapat perhatian?” Rasulullah saw. pun menjawab, “jika telah ada orang yang mengantarkan dan menguburkan jenazah, maka menghadiri majelis ulama lebih utama daripada melayat seribu jenazah. Bahkan ia lebih utama daripada menjenguk seribu orang sakit, atau shalat seribu hari seribu malam, atau sedekah seribu dirham pada faqir miskin, atau pun seribu kali berhaji; bahkan lebih utama daripada seribu kali berperang di jalan Allah dengan jiwa dan hartamu! Tahukah engkau bahwa Allah dipatuhi dengan ilmu, dan disembah dengan ilmu pula? Tahukah engkau bahwa kebaikan dunia dan akhirat adalah dengan ilmu, sedangkan keburukan dunia dan akhirat adalah dengan kebodohan?”
Hadis di atas merefleksikan tentang keutamaan pentingnya menghadiri majelis ilmu. Mengapa menghadiri majelis ilmu begitu diprioritaskan dari berta’ziah?
Majelis ilmu memang pantas bila harus diistimewakan kedudukannya daripada bertakziah. Selain karena majelis ilmu adalah tempat mencari kebenaran dan menggali hikmah. Menjala rahmat dan hidayah dari Allah pun bisa dilakukan dengan cara menghadiri majelis ilmu.
Majelis ilmu juga memberikan kesempatan pada manusia untuk berbaur dengan sesama insan yang juga mencintai ilmu. Hingga keimanan yang tertanam dalam hati mereka kian subur. Mereka bisa saling menasihati, saling mengingatkan, dan saling menyampaikan kabar gembira yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadis. Hal ini menjadikan hati orang yang selalu menghadiri majelis ilmu semakin erat dengan manusia dan semakin lekat dengan Allah.
Maka luar biasa kiranya, bila menuntut ilmu itu menjadi sesuatu yang didahulukan, sebab dengan mencari ilmu, maka kita akan mengetahui apa yang tidak kita ketahui, serta untuk mengetahui, apa yang juga diketahui oleh orang lain. Dengan harapan agar kita tidak terpuruk dalam kejumudan intelektual, serta tidak tertinggal oleh orang lain, ketika mereka berlomba-lomba menabung amal.

B.Interaksi Guru Dan Murid
Interakasi atau hubungan guru dan murid merupakan hal yang penting. Sejarah pendidikan islam bahwasanya bersikap menampilkan pola hubungan guru-murid berdasarkan rasa cinta, cermat, dan persahabatan. Menurut Nasr dalam bukunya berjudul sains mengatakan” hubungan guru-murid dalam pendidikan islam selalu memiliki aspek yang sangat personal, dimana seorang penuntut ilmu mencari seorang guru, bukan lembaga, lalu mengabdikan diri sepenuhnya kepada guru tersebut. Hubungan yang terjalin antara guru dan murid selalu intim; seorang murid menghormati gurunya seperti seorang ayah dan mematuhinya, bahkan dalam hal-hal pribadi yang tak langsung berkaitan dengan pendidikannya secara norma”
Adapun kriteria akhlak seorang pendidik (guru), antara lain:
1.mencintai jabatannya sebagai guru
2.bersikap adil terhadap semua muridnya
3.harus gembira dan berwibawa
4.berlaku sabar dan tenang
5.harus bersifat manusiawi
6.bekerja sama dengan guru-guru lain
7.bekerjasama dengan masyarakat
Tugas terpenting pula bagi seorang guru adalah ia dijadikan teladan (uswah) bagi murid-muridnya. Sebagaiman Al-Ghazali mengisyaratkan dengan sebuah tongkat dan bayangan, beliau berkata “ bagaimana mau bayangan lurus seandainya tongkatnya saja bengkok”, bahwa hal ini memberikan indikasi kekeliruan tingkah laku guru berakibat sangat fatal.
Sedangkan untuk seorang murid (anak didik) paling tidak mempunyai akhlak / adab dalam menuntut ilmu terhadap gurunya, yakni:
1.harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit hati, karena belajara adalah ibadah
2.harus mempunyai tujuan untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT bukan untuk kemegahan dan kedudukan
3.pelajara harus tabah dalam menimba ilmu pengetahuan
4.wajib menghormati guru, sehingga guru menjadi ridho terhadap ilmunya (Asma Hasan Fahmi.:175)
Dari adab murid tersebut, dapat disimpulkan betapa pentingnya dan mulianya kedudukan seorang guru (pendidik). Menurut Ahmad Syauqy dalam syairnya yang berbunyi,” posisikanlah seorang guru di tempat yang mulia, sebab posisi guru hampir mendekati posisi Rasul”

KESIMPULAN

Bahwasanya orang-orang yang beriman dan berimul akan diangkat derajatnya di sisi Allah. Oleh karena itu beruntunglah seseorang yang memiliki ilmu yang diamalkan untuk beramal shaleh. Dalam suatu proses pendidikan sangat diperlukan seorang pendidik (guru), dan seorang peserta didik (murid) haruslah menjaga adab dalam proses penerimaan pengetahuan, agar apa yang didapat mendapatkan barokah. Oleh karena itu sangat penting menjaga interaksi antara guru-murid sebab dengan menjaga adab satu sama lain maka akan tercipta suasana pengajaran yang baik dan menuju tujuan yang akan dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

Asari, Hasan. 1999. Nukilan Pemikiran Islam Klasik. Yogyakarta: PT Wacana Yogya.
Salim, Haitami. Mahrus, Erwin. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Tafsir, Ahmad. 2007. Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
http://www.geocities.com/Athens/Ithaca/8306/baru1420/tafsir/tafsir1.htm
http://khalilullah85.multiply.com/journal/item/19

(read more ...)
Feb 09

Power Of Spritual Quotient

Kajian 7 Comment »

Membangun spiritualisme adalah usaha melakukan refreshing mental atau ruhani berupa keyakinan, iman, ideologi, etika, dan pedoman atau tuntunan. Membangun spritualisme dapat dilakukan dengan berbagai media. Salah satunya adalah yang membangun spiritualitas yang bersumber dari agama atau reliji, yang dinamakan spritualisme religius. Adalah merupakan kewajiban bagi umat beragama untuk mengembangkan, menguatkan atau membangun kembali peran spritualitas religius. Spritualitas religius yang pada dasarnya merupakan bentuk spritualitas yang bersumber dari ajaran Tuhan, diyakini memiliki kekuatan spiritual yang lebih kuat, murni, suci, terarah, dan abadi dibandingkan spritualitas sekuler dengan berbagai coraknya. Membangun spritualitas religius dengan demikian merupakan kebutuhan untuk diwujudkan di tengah kehidupan masyarakat modern.
Dalam membangun spiritualitas tersebut kita membutuhkan Spiritual Quatient (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lainnya. Melalui penggunaan Kecerdasan Spiritualitas religius kita lebih terlatih dan melalui kejujuran serta amanah dalam menjalani kehidupan, orang yang bertaqwa menurut Tasmara adalah orang yang bertanggung jawab, memegang amanah dan penuh rasa cinta. Selain itu pada diri orang yang bertaqwa juga terdapat ciri : memiliki visi dan misi, merasakan kehadiran Allah Swt, berzikir dan berdoa, sabar, cenderung kepada kebaikan, memiliki empati, berjiwa besar, dan bersifat melayani.

A. Pengertian Spiritual Quotient (SQ)
Secara etimologi kata “sprit” berasal dari kata Latin “spiritus”, yang diantaranya berarti “roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup.” Dalam perkembangannya, selanjutnya kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filosuf, mengonotasian “spirit” dengan (1) kekuatan yang menganimasi dan memberi energi pada cosmos, (2) kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi, (3) makhluk immaterial, (4) wujud ideal akal pikiran (intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian). Sedangkan kecerdasan adalah kemampuan untuk memahami sesuatu. Spiritual Quotient adalah kesadaran tentang gambaran besar atau gambaran menyeluruh tentang diri seseorang dan jagat raya (Imam Supriyono, 2006: 75).
Menurut Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (Spiritual Quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’.
Menurut Khalil Khavari Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah fakultas dari dimensi nonmaterial kita-ruh manusia. Dan Marsha Sinetar mendefinisikan “Kecerdasan Spiritual adalah pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang terinspirasi, the is-ness atau penghayatan ketuhanan yang didalamnya kita semua menjadi bagian”.
Menurut Ary Ginanjar Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa Kecerdasan Spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas.
Buzan menyebutkan ada sepuluh konsep dasar yang menjadi tingginya spiritual quotient yakni: mendapatkan gambaran menyeluruh, menggali nilai-nilai, visi dan panggilan hidup, belas kasih (memahami diri sendiri dan orang lain), memberi dan menerima, kemurahan hati dan rasa syukur, kekuatan tawa, menjadi kanak-kanak kembali, kekuatan spritual, ketentraman, dan yang anda butuhkan hanyalah cinta. (Imam Supriyono, 2006: 77)
Selanjutnya Danah Zohar menyatakan Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan Agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan Spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang mempunyai SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Dan Spiritual Quotient (SQ) merupakan kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.
Jadi Kecerdasan Spiritual menurut penulis adalah “ kecerdasan atau kemampuan untuk memahami Tuhan, karakter internal diri (konsep diri), lingkungan yang memberikan nilai atau makna dalam hidup dalam setiap gerak-geriknya”.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi (SQ)
Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan Kecerdasan Spiritual antara lain sumber kecerdasan itu sendiri (God-spot), potensi qalbu (hati nurani) dan kehendak nafsu. Sedangkan secara umum ada dua faktor utama yang mempengaruhi kecerdasan yaitu; faktor genetik atau bawaan dan faktor lingkungan yaitu lingkungan rumah, kecukupan nutrisi, interfensi dini dan pendidikan di sekolah.
Menurut Roberts A. Emmons, ada lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual
(1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material;
(2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;
(3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari;
(4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah;
(5) dan kemampuan untuk berbuat baik
Upaya orang tua dalam membina kecerdasan spiritual anak dalam keluarga adalah melalui empat jalan tugas yakni, “melalui jalan pengasuhan, pengetahuan, perubahan pribadi, persaudaraan dan jalan kepemimpinan yang penuh pengabdian”

C. Ciri-ciri Spiritual Quotient (SQ) Tinggi
Bahwasanya orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual seperti teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi.
Menurut Zohar dan Marshall memberikan gambaran bagaimana tanda-tanda orang yang memiliki SQ tinggi, yaitu :
1. Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)
2. Tingkat kesadaran yang tinggi
3. Kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4. Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa takut
5. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
6. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik)
8. Kecenderungan nyata untuk bertanya: “mengapa?” atau “bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar
9. Pemimpin yang penuh pengabdian dan bertanggungjawab.
Dari pernyataan di atas kemudian Drs. Subandi, MA menambahkan Ciri-ciri tersebut beberapa kriteria antara lain:
1. Kemampuan menghayati keberadaan Tuhan.
2. Memahami diri secara utuh dalam dimensi ruang dan waktu
3. Memahami hakekat di balik realitas
4. Menemukan hakikat diri
5. Tidak terkungkung egosentrisme.
6. Memiliki rasa cinta
7. Memiliki kepekaan batin
8. Mencapai pengalaman spiritual: kesatuan segala wujud, mengalami
realitas non-material (dunia gaib)
SQ merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif oleh karena itu SQ adalah kecerdasan manusia yang paling tinggi. Hal ini secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan kemampuan manusia mentransendensikan diri: “transendensi merupakan kualitas tertinggi dari kehidupan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall transendensi adalah sesuatu yang membawa manusia “mengatasi” (beyond) – mengatasi masa kini, mengatasi rasa suka dan rasa duka, bahkan mengatasi diri kita pada saat ini.
Ia membawa manusia melampaui batas-batas pengetahuan dan pengalaman kita, serta menempatkan pengetahuan dan pengalaman kita ke dalam konteks yang lebih luas. Transendensi membawa manusia kepada kesadaran akan sesuatu yang luar biasa, dan tidak terbatas, baik di dalam maupun diluar diri kita.
D. Cerdas Spiritual Menurut Islam
Kecerdasan Spiritual dalam Islam sesungguhnya bukan pembahasan yang baru. Bahkan masalah ini sudah lama diwacanakan oleh para sufi. Kecerdasan Spiritual (SQ) berkaitan langsung dengan unsur ketiga manusia. Bahwa manusia mempunyai substansi ketiga yang disebut dengan roh. Keberadaan roh dalam diri manusia merupakan intervensi langsung Allah Swt tanpa melibatkan pihak-pihak lain, sebagaimana halnya proses penciptaan lainnya. Hal ini dapat difahami melalui penggunaan redaksional ayat sebagai berikut:
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (Q.S.al-Hijr/15:29)
Dalam sebuah hadis:
“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal (berbuat) untuk masa sesudah mati, sedang orang yang lemah ialah mereka yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah”. (Riwayat Ahmad)
Menurut Hadist ini, kecerdasan seseorang dapat diukur dari kemampuannya dalam mengendalikan hawa nafsunya (cerdas emosi) dan mengorientasikan semua amalnya pada kehidupan sesudah mati (cerdas spiritual). Mereka yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian, mereka juga percaya bahwa setiap amalan di dunia sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt.
Keyakinan tentang keabadian, menjadikannya lebih berhati-hati dalam menapaki kehidupan di dunia ini, sebab mereka percaya bahwa kehidupan ini tidak sekali di dunia ini saja, tapi ada kehidupan yang lebih hakiki. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Siapa yang menanam padi akan menuai padi. Siapa yang menanam angin akan menuai badai.
Tidak hanya bersikap hati-hati, orang yang cerdas spiritualnya lebih bersemangat, lebih percaya diri dan lebih optimis. Mereka tidak pernah ragu-ragu berbuat baik, sebab jika kebaikannya tidak bisa dinikmati saat di dunia mereka masih bisa berharap mendapatkan balasannya di akhirat nanti. Jika tidak bisa dinikmati sekarang, amal kebaikan itu akan berubah menjadi tabungan atau deposito secara otomatis yang kelak akan dicairkan justru pada saat mereka sangat membutuhkan di alam keidupan sesudah mati.
Ciri orang yang cerdas sebenarnya telah tampak jelas dalam derap langkahnya, ketika mereka membuat rencana, saat mengeksekusi rencananya dan pada saat melakukan evaluasi. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari saat sendirian atau dalam interaksi sosialnya nampak wajahnya yang senantiasa bercahaya, memancarkan energi positif, menjadi magnet power, penuh motivasi, menjadi sumber inspirasi, dan berfikir serta bertindak positif. Mereka akan bersikap baik dan benar baik ketika ditengah keramaian maupun disaat sendirian karena dimanapun dia berada merasa dilihat oleh Allah. Orang seperti ini mempunyai integritas (selaras antara kata dan perbuatannya).
Orang yang cerdas emosi dan spiritual enak diajak bergaul, karena mereka telah terbebas dari su’udzon (buruk sangka, hasad (iri atau dengki) dan takabur (menyombongkan diri). Orang-orang inilah yang memiliki potensi untuk meraih sukses di dunia sekaligus sukses menikmati kehidupan surgawi di akhirat nanti.
Mengacu kepada paparan di atas, dapat ditegaskan bahwa Islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap SQ. Tinggal lagi bagaimana manusia memelihara SQ-nya agar dapat berfungsi optimal.


KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Kecerdasan Spiritual merupakan pelengkap dari kecerdasan lainnya. Sebab Kecerdasan Spiritual sebagai pengendali sikap seseorang dalam melakukan berbagai kegiatan. Sehingga apa yang ia lakukan itu mempunyai makna buat dirinya maupun lingkungan tempat dia tinggal. Perkembangan Kecerdasan Spiritual ini juga dipengaruhi oleh beberapa antaranya faktor utama kecerdasan yaitu; faktor genetik atau bawaan dan faktor lingkungan. Bahwasanya orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual
Bahwa dalam islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Kecerdasan Spiritual (SQ). Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dan mempersiapkan amal buat sesudah mati. Oleh karena itu, bagi kita yang lebih menekankan IQ atau EQ maka itu belumlah cukup maka untuk menyeimbangkan keduanya diperlukannya nilai spiritual (SQ) agar setiap gerak-gerik kita mengandung makna atau nilai positif bagi diri pribadi, lingkungan, maupun orang lain.


DAFTAR PUSTAKA

Supriyono, Imam. 2006. FSQ,Memahami, Mengukur, Dan Melenjitkan Financial Spiritual Quotient Untuk Keunggulan Diri, Perusahaan & Masyarakat. Surabaya: Lutfansh
http://armanbelajar.multiply.com/reviews/item/14, diakses tanggal 5 Mei 2009
http://grahacendikia.wordpress.com/2009/03/14/b002-peranan-orang-tua-dalam-membina-kecerdasan-spiritual-anak-dalam-keluarga/ diakses tanggal 5 Mei 2009
http://hanifa93.wordpress.com/2009/01/04/cerdas-spiritual-menurut-islam/diakses tanggal 5 Mei 2009
http://ijabiyogya.tripod.com/subandi.htm, diakses tanggal 5 Mei 2009
http://sulaiman.blogdetik.com/category/spiritual/ diakses tanggal 5 Mei 2009
http://www.e-psikologi.com/epsi/industri_detail.asp?id=212,diakses tanggal 5Mei 2009

(read more ...)
Feb 09

Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an

Kajian 1 Comment »

Berbicara tentang manusia berarti kita berbicara tentang dan pada diri kita sendiri makhluk yang paling unik di bumi ini. Banyak di antara ciptaan Allah yang telah disampaikan lewat wahyu yaitu kitab suci. Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Menurut Ismail Rajfi manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan (Jalaluddin, 2003: 12).
Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah dikaruniainya akal. Dengan dikarunia akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta ciptaan Allah adalah sebagai amanah.
Selain itu manusia juga dilengakapi unsur lain yaitu qolbu (hati). Dengan qolbunya manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi secara spiritual (Jalaluddin, 2003: 14).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain, dengan memiliki potensi akal, qolbu dan potensi-potensi lain untuk digunakan sebagai modal mengembangkan kehidupan.
Hakikat wujud manusia menurut Ahmad Tafsir (2005: 34) adalah makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa manusia mempunyai banyak kecenderungan, ini disebabkan oleh banyaknya potensi yang dimiliki. Dalam hal ini beliau membagi kecenderungan itu dalam dua garis besar yaitu cenderung menjadi orang baik dan cenderung menjadi orang jahat (2003: 35).

Pemahaman tentang manusia merupakan bagian dari kajian filsafat. Tak mengherankan jika banyak sekali kajian atau pemikiran yang telah dicurahkan untuk membahas tentang manusia . walaupun demikian, persoalan tentang manusia ajan menjadi misteri yang tek terselesaikan. Hal ini menurut Husein Aqil al-Munawwar dalam Jalaluddin (2003: 11) karena keterbatasan pengetahuan para ilmuan untuk menjangkau segala aspek yang terdapat dalam diri manusia. Lebih lanjut Jalaluddin (2003: 11) mengatakan bahwa manusia sebagai makhluk Allah yang istimewa agaknya memang memiliki latar belakang kehidupan yang penuh rahasia.
Dengan demikian, memang yang menjadi keterbatasan untuk mengetahui segala aspek yang terdapat pada diri manusia itu adalah selain keterbatan para ilmuan untuk mengkajinya, juga dilatarbelakangi oleh faktor keistimewaan manusia itu sendiri.
Walaupun demikian, sebagai hamba yang lemah, usaha untuk mempelajarinya tidaklah berhenti begitu saja. Banyak sumber yang mendukung untuk mempelajari manusia. Di antara sumber yang paling tinggi adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Yang mana di dalamnya banyak terdapat petunjuk-petunjuk tentang penciptaan manusia. Konsep-konsep tentang manusia banyak dibahas, mulai dari proses penciptaan sampai kepada fungsinya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Dalam makalah ini kami berupaya untuk menguraikan secara sederhana tentang hakikat manusia dan kedudukannya di alam semesta. Yang sudah tentu hal ini merupakan kajian untuk mempejari penciptaan manusia.

a. Konsep al-Basyr
Penelitian terhadap kata manusia yang disebut al-Qur’an dengan menggunakan kata basyar menyebutkan, bahwa yang dimaksud manusia basyar adalah anak turun Adam, makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek fisik itulah yang membuat pengertian basyar mencakup anak turun Adam secara keseluruhan (Aisyah Bintu Syati, 1999: 2). Menurut Abdul Mukti Ro’uf (2008: 3), kata basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mutsanna.
Jalaluddin (2003: 19) mengatakan bahwa berdasarkan konsep basyr, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembang biak. Sebagaimana halnya dengan makhluk biologis lain, seperti binatang. Mengenai proses dan fase perkembangan manusia sebagai makhluk biologis, ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, yaitu:
1. Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan manusia berawal dari pembuahan (pembuahan sel dengan sperma) di dalam rahim, pembentukan fisik (QS. 23: 12-14)
2. Post natal (sesudah lahir) proses perkembangan dari bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut (QS. 40: 67)
Secara sederhana, Quraish Shihab (1996: 279) menyatakan bahwa manusia dinamai basyar karena kulitnya yang tampak jelas dan berbeda dengan kulit-kulit binatang yang lain. Dengan kata lain, kata basyar senantiasa mengacu pada manusia dari aspek lahiriahnya, mempunyai bentuk tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di dunia ini. Dan oleh pertambahan usianya, kondisi fisiknya akan menurun, menjadi tua, dan akhirnya ajalpun menjemputnya (Abuddin Nata 1997: 31).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dalam konsep al-Basyr ini dapat berubah fisik, yaitu semakin tua fisiknya akan semakin lemah dan akhirnya meninggal dunia. Dan dalam konsep al-Basyr ini juga dapat tergambar tentang bagaimana seharusnya peran manusia sebagai makhluk biologis. Bagaimana dia berupaya untuk memenuhi kebutuhannya secara benar sesuai tuntunan Penciptanya. Yakni dalam memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier.
b. Konsep Al-Insan
Kata insan bila dilihat asal kata al-nas, berarti melihat, mengetahui, dan minta izin. Atas dasar ini, kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia dengan kemampuan penalarannya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari hal-hal yang dilihatnya, dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, serta dapat meminta izin ketika akan menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Berdasarkan pengertian ini, tampak bahwa manusia mampunyai potensi untuk dididik (Abuddin Nata, 1997: 29).
Potensi manusia menurut konsep al-Insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi (Jalaluddin, 2003: 23). Jelas sekali bahwa dari kreativitasnya, manusia dapat menghasilkan sejumlah kegiatan berupa pemikiran (ilmu pengetahuan), kesenian, ataupun benda-benda ciptaan. Kemudian melalui kemampuan berinovasi, manusia mampu merekayasa temuan-temuan baru dalam berbagai bidang. Dengan demikian manusia dapat menjadikan dirinya makhluk yang berbudaya dan berperadaban.


c. Konsep Al-Nas
Dalam konsep an-naas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial (Jalaluddin, 2003: 24). Tentunya sebagai makhluk sosial manusia harus mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial artinya tidak boleh sendiri-sendiri. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri.
Jika kita kembali ke asal mula terjadinya manusia yang bermula dari pasangan laki-laki dan wanita (Adam dan Hawa), dan berkembang menjadi masyarakat dengan kata lain adanya pengakuan terhadap spesis di dunia ini, menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara dan tidak boleh saling menjatuhkan. Secara sederhana, inilah sebenarnya fungsi manusia dalam konsep an-naas.
d. Konsep Bani Adam
Adapun kata bani adam dan zurriyat Adam, yang berarti anak Adam atau keturunan Adam, digunakan untuk menyatakan manusia bila dilihat dari asal keturunannya (Quraish Shihab, 1996: 278). Dalam Al-Qur’an istilah bani adam disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 ayat (Abdul Mukti Ro’uf, 2008: 39).
Menurut Thabathaba’i dalam Samsul Nizar (2001: 52), penggunaan kata bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu: Pertama, anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, di antaranya adalah dengan berpakaian guna manutup auratnya. Kedua, mengingatkan pada keturunan Adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak kepada keingkaran. Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka ibadah dan mentauhidkanNya. Kesemuanya itu adalah merupakan anjuran sekaligus peringatan Allah dalam rangka memuliakan keturunan Adam dibanding makhluk-Nya yang lain.
Lebih lanjut Jalaluddin (2003: 27) mengatakan konsep Bani Adam dalam bentuk menyeluruh adalah mengacu kepada penghormatan kepada nilai-nilai kemanusian.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia dalam konsep Bani Adam, adalah sebuah usaha pemersatu (persatuan dan kesatuan) tidak ada perbedaan sesamanya, yang juga mengacu pada nilai penghormatan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian serta mengedepankan HAM. Karena yang membedakan hanyalah ketaqwaannya kepada Pencipta. Sebagaimana yang diutarakan dalam QS. Al-Hujarat: 13).
e. Konsep Al-Ins
Kata al-Ins dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali, masing-masing dalam 17 ayat dan 9 surat (Abdul Mukti Ro’uf, 2008:24). Muhammad Al-Baqi dalam Jalaluddin (2003: 28) memaparkan al-Isn adalah homonim dari al-Jins dan al-Nufur. Lebih lanjut Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan jin, maka manusia adalah makhluk yang kasab mata. Sedangkan jin adalah makhluk halus yang tidak tampak (Jalaluddin, 2003: 28).
Sisi kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata al-Ins dalam arti “tidak liar” atau “tidak biadab”, merupakan kesimpulan yang jelas bahwa manusia yang insia itu merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik yang identik dengan liar atau bebas (Aisyah Bintu Syati, 1999: 5).
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dalam konsep al-ins manusia selalu di posisikan sebagai lawan dari kata jin yang bebas. bersifat halus dan tidak biadab. Jin adalah makhluk bukan manusia yang hidup di alam “antah berantah” dan alam yang tak terinderakan. Sedangkan manusia jelas dan dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungan yang ada.

f. Konsep Abd. Allah
M. Quraish Shihab dalam Jalaluddin (2003: 29), seluruh makhluk yang memiliki potensi berperasaan dan berkehendak adalah Abd Allah dalam arti dimiliki Allah. Selain itu kata Abd juga bermakna ibadah, sebagai pernyataan kerendahan diri.
Menurut M.Quraish Shihab (Jalaluddin, 2003: 29), Ja’far al-Shadiq memandang ibadah sebagai pengabdian kepada Allah baru dapat terwujud bila seseorang dapat memenuhi tiga hal, yaitu:
1. Menyadari bahwa yang dimiliki termasuk dirinya adalah milik Allah dan berada di bawah kekuasaan Allah.
2. Menjadikan segala bentuk sikap dan aktivitas selalu mengarah pada usaha untuk memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
3. Dalam mngambil keputusan selalu mengaitkan dengan restu dan izin Allah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam konsep Abd Allah, manusia merupakan hamba yang seyogyanya merendahkan diri kepada Allah. Yaitu dengan menta’ati segala aturan-aturan Allah.
g. Konsep Khalifah Allah
Pada hakikatnya eksistensi manusia dalam kehidupan dunia ini adalah untuk melaksanakan kekhalifahan, yaitu membangun dan mengelola dunia tempat hidupnya ini., sesuai dengan kehendak Penciptanya. Menurut Jalaluddin (2003: 31) peran yang dilakonkan oleh manusia menurut statusnya sebagai khalifah Allah setidak-tidaknya terdiri dari dua jalur, yaitu jalur horizontal dan jalur vertikal.
Peran dalam jalur horizontal mengacu kepada bagaimana manusia mengatur hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Sedangkan peran dalam jalur vertikal menggambarkan bagaimana manusia berperan sebagai mandataris Allah. Dalam peran ini manusia penting menyadari bahwa kemampuan yang dimilikinya untuk menguasai alam dan sesama manusia adalah karena penegasan dari Penciptanya.
2. Manusia Dalam Perspektif Filsafat
Para ahli pikir filsafat mencoba memaknai hakikat manusia. Mereka mencoba manamai manusia sesuai dengan potensi yang ada pada manusia itu.
Berdasarkan potensi yang ada, para ahli pikir dan ahli filsafat tersebut memberi nama pada diri manusia di muka bumi ini, para ahli pikir dan ahli filsafat tersebut memberi nama pada diri manusia dengan sebutan-sebutan sebagai berikut:
a. Homo Sapiens, artinya makhluk yang mempunyai budi.
b. Animal Rational, artinya binatang yang berpikir.
c. Homo Laquen, artinya makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan menjelmakan pikiran manusia dan perasaan dalam kata-kata yang tersusun.
d. Homo Faber, yaitu makhluk yang terampil, pandai membuat perkakas, atau disebut juga tool making animal, yaitu binatang yang pandai membuat alat.
e. Aoon Politicon, yaitu makhluk yang pandai bekerjasama, bergaul dengan orang lain dan mengorganisasi diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
f. Homo Economicus, yaitu makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersifat ekonomis.
g. Homo Religius, yaitu makhluk yang beragama.
(Syahminan Zaini, 1980: 5-6)
Dalam perspektif filsafat, konsep manusia menurut Jalaluddin (2003: 32-33) juga mencakup ruang lingkup kosmologi (bagian dari alam semester), antologi (pengabdi Penciptanya), philosophy of mind (potensi), epistemology (proses pertumbuhan dan perkembangan potensi) dan aksiologi (terikat nilai-nilai).


Berbicara mengenai pandangan filsafat tentang hakikat manusia, ada 4 aliran yang ditawarkan oleh para ahli filsafat. Adapun keempat aliran tersebut, seperti yang dikutip Jalaluddin dan Abdullah (1997:107-108) dan Zuhairini (1995:71-74) adalah sebagai berikut:
a. Aliran Serba Zat.
Aliran ini menyatakan bahwa yang sungguh-sunguh ada hanyalah zat atau materi. Zat atau materi itulah hakikat sesuatu. Alam ini adalah zat atau materi, dan manusia adalah unsur alam. Oleh karena itu, hakikat manusia adalah zat atau materi.
b. Aliran Serba Ruh.
Aliran ini berpandangan bahwa hakikat segala sesuatu yang ada di dunia ini ialah ruh, termasuk juga hakikat manusia. Adapun zat atau materi adalah manifestasi ruh di atas dunia ini. Dengan demikian, jasad atau badan manusia hanyalah manifestasi atau penjelmaan ruh.
c. Aliran Dualisme.
Aliran ini menggabungkan pendapat kedua aliran di atas. Aliran ini berpandangan bahwa hakikatnya manusia terdiri dari dua substansi, yaitu jasmani dan rohani. Kedua substansi ini merupakan unsur asal, tidak tergantung satu sama lain. Jadi, badan tidak berasal dari ruh, dan sebaliknya, ruh tidak berasal dari badan. Dalam perwujudannya, manusia tidak serba dua, melainkan jadi hubungan sebab akibat yang keduanya saling mempengaruhi.
d. Aliran Eksistensialisme.
Aliran ini memandang manusia dari segi eksistensinya. Menurut aliran ini, hakikat manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. intinya, hakikat manusia adalah apa yang menguasai manusia secara menyeluruh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif filsafat, manusia dinamai berdasarkan fungsi dan potensinya. Dan manusia juga dipandang dalam bentuk aliran-aliran oleh para ahli filsafat.


KESIMPULAN

Kajian mengenai manusia sangat luar biasa sekali uniknya. Sangatlah pantas manusia itu dikatakan makhluk yang paling mulia. Dilihat dari proses penciptaan sampai kepada fungsinya, sudah menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang terpilih oleh Allah.
Dalam uraian singkat makalah di atas, terdapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi berkaitan tentang manusia, yaitu:
1. Hakikat manusia itu sangat beragam sekali, mulai dari hakikatnya sebagai makhluk Allah SWT dan hakikatnya sebagai makhluk sosial.
2. Pandangan tentang manusia itu dapat dilihat dari dua perspektif.
a. Perspektif Al-Qur’an.Terdiri dari:
a) Konsep al-Basyr. Dalam konsep ini manusia dipandang sebagai makhluk yang tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. (terikat ingin berkembang biak). Dalam hal ini kita kenal proses dan fase perkembangan manusia, yaitu: Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan manusia berawal dari pembuahan (pembuahan sel dengan sperma) di dalam rahim, pembentukan fisik (QS. 23: 12--14). Kedua, Post natal (sesudah lahir) proses perkembangan dari bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut (QS. 40: 67)
b) Konsep al-Insan. Dalam konsep ini manusia dipandang mempunyai potensi untuk mengembangkan dirinya. Potensi manusia menurut konsep al-Insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi.
c) Konsep al-Nas. Dalam konsep an-naas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial.
d) Konsep Bani Adam. Konsep Bani Adam dalam bentuk menyeluruh adalah pengakuan terhadap spesis manusia yang mengacu kepada penghormatan kepada nilai-nilai kemanusian.
e) Konsep al-Ins. Manusia dalam konsep ini adalah kebalikan dari kata jin. Manusia hidup penuh dengan keteraturan. Hidupnya jelas yang dapat terinderakan.
f) Konsep Abd Allah. Manusia dalam konsep ini merupakan hamba, yang seyogyanya merendahkan diri kepada Allah. Yaitu dengan mena’ati segala aturan-aturan Allah.
g) Konsep Khalifah Allah. Manusia menurut statusnya sebagai khalifah Allah setidak-tidaknya terdiri dari dua jalur, yaitu jalur horizontal (hubungan baik sesama makhluk) dan jalur vertical (mandataris Allah).
b. Perspektif Filsafat
Dalam perspektif filsafat, konsep manusia menurut Jalaluddin (2003: 32-33) mencakup ruang lingkup kosmologi (bagian dari alam semester), antologi (pengabdi Penciptanya), philosophy of mind (potensi), epistemology (proses pertumbuhan dan perkembangan potensi) dan aksiologi (terikat nilai-nilai). Selain itu, para ahli filsafat menamai manusia berdasarkan potensinya, yaitu:
1. Homo Sapiens, artinya makhluk yang mempunyai budi.
2. Animal Rational, artinya binatang yang berpikir.
3. Homo Laquen, artinya makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan menjelmakan pikiran manusia dan perasaan dalam kata-kata yang tersusun.
4. Homo Faber, yaitu makhluk yang terampil, pandai membuat perkakas, atau disebut juga tool making animal, yaitu binatang yang pandai membuat alat.
5. Aoon Politicon, yaitu makhluk yang pandai bekerjasama, bergaul dengan orang lain dan mengorganisasi diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
6. Homo Economicus, yaitu makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersifat ekonomis.
7. Homo Religius, yaitu makhluk yang beragama.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mukti Ro’uf. 2008. Manusia Super. Pontianak: STAIN Pontianak Press.

Abuddin Nata. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Ahmad Tafsir. 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Aisyah Bintu Syati. 1999. Manusia Dalam Perspektif AL-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kemas Badaruddin. 2007. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Omar moh. Al-Toumy al-Syaibany. 1983. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Quraish Shihab. 1996. Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan.

Samsul Nizar. 2001: 52 ……………………………………………………

Syahminan Zaini, 1980: 5-6 ………………………………………….

(read more ...)
Feb 09

Hai Sahabat....!!!!

Kajian 0 Comment »

Ini adalah postingan pertamaku saat bergabung bersama CyberMQ Blog.Kedepan InsyaAllah saya akan coba terus menulis di blog tercinta saya ini tentang sesuatu yang bermanfaat bagi dunia. Semoga tulisan awal ini menjadi langkah penting dalam memulai kreasi saya didunia maya khususnya di blog saya ini. Kunjungi kembali blog saya beberapa waktu kedepan untuk melihat tulisan saya.

(read more ...)
.::. Designed by SiteGround Web Hosting

cssandhtml